Spektrum

Suatu hari saya berkesempatan berbincang-bincang dengan seorang arsitek yang mendampingi warga di pinggiran waduk Pluit yang akan digusur. Ia bercerita tentang pergulatannya mendesain untuk 5000 kepala keluarga di atas tanah seluas 12 hektar. Tantangannya bukan cuma kepadatan, tapi juga kelayakan dan kemungkinan terealisasi, karena 5000 KK ini bukanlah orang-orang yang “mampu”. Selain itu, dia juga dikejar waktu. Desain harus berlomba dengan mesin keruk (beku) yang selalu siap menghancurkan rumah warga di saat-saat yang tak terduga. Seorang ibu, salah satu penghuni pinggiran waduk, bercerita, sekarang pemerintah daerah menggunakan cara gusur yang berbeda. Jika dulu mereka mengerahkan SatPol PP, sekarang penggusuran adalah bagian dari kontrak dengan developer. “Oknum-oknum” developer akan datang ke tempat tingal mereka dangan membawa uang dan mesin-mesin besar. Tawar-tawaran terjadi di tempat dengan garu raksasa mesin beku yang sudah teracung di atas atap rumah mereka. Ini tentu tak bisa disebut “tawar-tawaran”, melainkan “ancaman”.

Di hari yang lain, saya mendapat cerita dari seorang kontraktor yang sedang melaksanakan sebuah desain dari salah satu kolega arsitek; sebuah rumah di kawasan Kuningan seluas 7000 meter persegi. Saya tanya, “Itu luas tanahnya?” Dia bilang, “Bukan. Rumahnya.” “Kok bisa?” Tanya saya polos. Tentu bisa, jelas kontraktor tadi, rumah itu dilengkapi dengan dua hall besar yang bisa menampung 1000 orang. Pantas. Saya tak berani membayangkan biayanya. Meskipun tak sulit, karena pada saat yang bersamaan saya sedang menangani sebuah proyek interior untuk seorang klien yang tak kunjung bisa memutuskan mau beli sofa 3 dudukan yang mana; yang harganya 45 juta atau 52 juta.

Seberapa luas bentang spektrum dari praksis kita? Seluas 12 hektar untuk 5000 kepala keluarga hingga 7000 meter persegi untuk satu keluarga. Seluas sulitnya mencari makan untuk satu hari hingga kebingungan menentukan pilihan sofa berharga puluhan juta rupiah. Seluas satu rumah 3×5 untuk 8 orang hingga hall yang bisa memuat 1000 orang sekali pesta. Di bentang seluas itu, saya merasa gamang.

Tapi keluasan spektrum itu juga memberi kita ruang dan pilihan yang tak terbatas. Setiap orang pada akhirnya menemukan posisi yang paling tepat untuk dirinya. Setiap orang pada akhirnya diam atau beredar di satu titik. Tak ada yang salah atau jadi lebih benar dengan pilihan-pilihan tersebut. Menyadari keluasan spektrum dari praksis kita bisa jadi sekedar pengetahuan belaka, atau semacam alarm pengingat yang siap mencubit nurani kita. Suatu ketika klien kita ingin membuat kamar tidur seluas lapangan basket, kita akan ingat pada orang-orang yang berumah di gerobak. Suatu ketika klien kita ingin, secara ilegal, membuat sumur artesis untuk sumber airnya, kita akan ingat pada kaum miskin yang terpaksa membelanjakan sepertiga dari pendapatannya untuk air bersih. Suatu ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk melanggar Koefisien Dasar Bangunan, kita akan ingat pada orang-orang di pinggir kali yang akrab pada banjir.

Tapi saya tak mau berharap banyak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s