Tiket ke Tangier

Kamu tak akan menemukannya di sana. Sembilan belas tujuh tiga bukan tahun yang baik untuk jatuh cinta. Tapi suatu hari, di tempat itu, dia mencium bibirmu. Kamu langsung yakin bahwa dia adalah cinta sejatimu.

_____

Café Baba. Aku bisa melihatmu duduk di kursi yang sama, meja yang sama, di samping jendela yang sama. Biru yang melapisi bingkai kaca itu selalu baru, aku tahu. Bau samar terpentin akan berbaur dengan kopi dan kayu manis. Dan debu. Debu yang menempel pada tembok, sela-sela engsel, lipatan meja, kertas pelapis dinding bermotif sulur-suluran di belakang sana, dan lis kayu lusuh yang dengan patuh menyusuri ruang. Kita tak tahu berapa umurnya. Café tua ini tak pernah berubah.

Kamu akan memesan secangkir teh herbal, selalu mint. Lembar-lembar daun hijau itu akan mengendap di dasar gelas, membuat merah teh tak bisa terlalu dominan. Lalu kamu mengeluarkan sebuah buku, selalu The Sheltering Sky, dari tas selempangmu. Kamu tak akan membacanya. Hanya memegangnya terbuka, dengan sebelah tangan, persis di halaman empat puluh tiga. Tahun kelahiranmu.

Kamu akan melihat keluar jendela, ke jalan yang selalu sibuk. Kamu selalu tertegun melihat begitu banyak orang asing di kota ini. “Kita juga asing”, katanya siang itu. Dua di antara ribuan. Mungkin puluhan ribu. “Tapi”, tambahnya, “orang asing sekedar orang yang belum kita kenal”.

Lalu dia mengulurkan tangan dan kalian berjabatan untuk pertama kali. Mimiknya begitu serius, kamu merasa seolah bersalaman dengan seorang ibu negara. Sesudahnya, kalian tergelak, seperti kanak-kanak. Itu membuat kamu dan dia tak lagi asing. Tidak di tengah kota ini. Tidak antara kalian berdua.

Lagi pula, setelah sekian lama, bukankah kamu tahu beberapa kalimat pendek dalam bahasa Darija dan Tarifit Berber? Berapa lama yang kamu butuhkan untuk menghapal kata-kata tersebut? Setahun. Mungkin dua tahun. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mengembalikannya ke sini? Sedetik? Dua detik? Mungkin sekedipan mata. Di antara orang-orang yang berlalu-lalang, matamu tak pernah luput menangkapnya.

Dari jendela itu kamu melihatnya berjalan mendaki bukit. Jaket linen dan celana katun. Kemeja tipis dengan motif bunga-bunga kecil berwarna musim gugur. Kacamata hitam untuk menangkis matahari yang terlalu miring. Tas kulit coklat di tangan kiri. Dan topi jerami. Satu-satunya benda yang kini mengikatnya denganmu. Sejenak dia hilang ditelan bayangan gedung-gedung toko tua dan pohon-pohon kurma, tapi dia akan muncul lagi ke tengah cahaya, lalu hilang, dan muncul lagi, hilang dan muncul lagi. Hatimu berdebar-debar. Bagaimana bila dia hilang – sebelum sampai ke mari?

Tapi dia selalu sampai. Tepat di pintu itu sosoknya akan muncul. Dengan warna yang sama dan cahaya matahari di punggungnya. Medina tua ini tak pernah mengecewakanmu. Di pintu itu, kamu selalu menemukan dia. Mata kalian beradu sejenak. Kamu buru-buru menunduk malu, menyembunyikan wajah di buku yang kamu pegang dengan tegang.

“Kosong?”  Dia tiba-tiba telah berdiri di samping mejamu, menunjuk ke kursi di depanmu. Seperti orang tolol, kamu celingukan ke kiri dan kanan, tak yakin dia sedang berbicara padamu. “Kosong?” Tanyanya lagi. Kali ini kamu tak bisa mengelak. Kepalamu mengangguk. Tapi bibirmu tak mengatakan apa-apa. Seorang pelayan berkepala botak berwajah ramah mendekat, dan berkata padamu, “Ahh, kekasih anda datang juga akhirnya,” sambil mengeluarkan nota, siap mencatat pesanan.

Gelagapan, kamu hendak memprotes, mengoreksi kesalahpahaman itu, tapi hatimu menolak. Maka mulutmu hanya ternganga gagu. Lucu. Perempuan itu memandangmu geli dan tanpa sungkan tersenyum padamu. Dia memesan secangkir kopi, lalu duduk dan menyilangkan kaki. Matanya memandang ke balik jendela. Ke langit. “Tangier selalu biru,” ujarnya, seolah pada diri sendiri.

Begitu juga katanya, ketika kalian berdiri di tepi laut Mediterania. Pasir begitu lembut di bawah telapak kalian yang telanjang. Beberapa anak bermain bola dengan seru – meninggalkan jejak acak kaki-kaki kecil. Teriakan mereka menghalau camar yang hendak singgah.

Di depan kalian, laut dan langit beradu biru. Kamu dan dia tak bisa bersepakat siapa pemenangnya. Di kota itu, laut dan langit juga  beradu usia. Entah mana yang lebih tua, tapi kalian pernah melihat langit begitu keriput dan muka laut sekusut kulit pohon wilow.

“Kadang-kadang Tuhan malas menyetrika,” katamu. Dia tertawa. Geligi putihnya tampil begitu rapi seperti sederet penari angsa di panggung merah muda. Kamu terpesona – seketika menjelma penonton fanatik di baris depan. Saat dia mengatupkan bibir, kamu nyaris bertepuk. Tanganmu sudah terangkat di depan dada ketika mata kalian saling mengaca. Kamu terpana. Biji matanya berwarna biru. Dalam. Seperti biru yang melapisi bingkai kaca itu. Dan membekukan waktu dalam gelas pasir.

Tapi di meja itu, kamu belum tahu. Kamu cuma berani mencuri-curi pandang ke wajahnya yang panjang. Wajah yang mengingatkanmu pada hari-hari hujan di negerimu. Entah mengapa. Mungkin karena melihatnya memberimu perasaan sejuk. Kamu, seorang pengembara di negeri asing, tiba-tiba merasa begitu dekat dengan rumah. Kamu bahkan berani bersumpah bahwa saat itu kamu mendengar ceriap gelatik, burung-burung kecil yang biasa hinggap di pohon ketapang depan kamarmu.

Lagi-lagi dia tertawa. “Tak ada gelatik di sini,” katanya, “yang ada hanyalah burung-burung merpati.” Dia benar. Sambil berjalan di antara dinding-dinding tinggi medina, matamu sering menangkap kelebat mereka – yang sekedar lewat atau mampir mematuki bijian dan remah roti di sela batu. Di sebelahmu, dia tak henti-henti menghitung langkah. “Untuk apa?” Ia mengedikkan bahu. “Tak semua hal harus berguna,” jawabnya sambil lalu. Belakangan dia mengaku, dia menyukai hal-hal yang akurat. Seperti jarak dari Café Baba ke Kasbah. Jarak dari pintu hotelnya ke kedai penjual mechoui. Juga waktu tempuhnya.

Tapi di gang-gang yang berkelok-kelok ini, berhitung adalah hal yang pelik. Memang ada beberapa tanda yang kalian ingat: air mancur di tengah plaza, kebun jeruk di balik gerbang kayu, mesjid berkubah kuning, kios penjual bunga, rumah sudut berarsitektur kolonial. Namun ketika di lorong berikut, dan berikutnya lagi, setiap hal seperti mengulangi diri mereka sendiri, hingga akhirnya semua terlihat serupa, dengan segera kalian tahu – kalian telah tersesat.

Sejenak kamu bimbang. Dia menggoreskan ujung sepatu di muka jalan yang berlumut. Angin dingin bertiup tiba-tiba entah dari mana, mendorong kalian saling mendekat. Hari masih siang dan matahari begitu cerah. Bayang-bayang kalian memanjang hingga ke satu kelokan di ujung jalan. Kamu menatapnya. Dia menatapmu. Tanpa sepatah kata pun, kalian sepakat, tersesat hanya sebuah perjalanan yang lebih panjang. Kamu menggenggam tangannya. Dia sedikit menggelayut. Bergandengan, kalian menyusuri medina tua itu.

Sebuah pasar baru saja dimulai di balik kelok pertama. Di sepanjang lorong berderet penjual sayur dan telur. Tembakau dan cerutu. Kerajinan kulit dan sepatu. Seorang lelaki dengan kostum  Tsar Rusia membawa keranjang untuk berbelanja bahan makanan. “Siapa dia?” Bisikmu pada seorang pedagang barang antik. “Tsar,” jawabnya tak sabar. Setiap orang di sini tahu itu. Tsar tinggal di lereng bukit dengan sekelompok orang cebol yang sesekali menari untuk menghibur tamu-tamu undangan makan malamnya. Ia juga punya seekor ayam jago yang diberi nama Birdie.

Kalian singgah di sebuah kios yang menjual berbagai macam busana. Dia memilihkan satu rompi berwarna coklat untukmu. “Cocok dengan kulitmu,” ujarnya, sambil menempelkan rompi itu ke lenganmu. Untuknya, kamu membelikan sebuah topi jerami berwarna terang. Dia mengenakannya dengan senang. “Aku akan memakai topi ini selama-lamanya,” katanya, dengan mata sekilap bintang. Hatimu yang melonjak tertahan sejenak di kerongkongan.

Melewati kelokan kedua, kalian berhenti – tepat di tengah Souk Dakhli. Pelataran itu nyaris kosong. Beberapa perempuan Rif  berkostum warna-warni menawarkan susu dalam botol-botol kusam dan roti yang kelihatan keras. Selebihnya cuma bangunan-bangunan tua berarsitektur Maroko yang muram. Beberapa bahkan tampak sedih. Jendela-jendela usang yang lepas dari engselnya. Pintu-pintu tertutup yang telah kehilangan warna. Di sana, kehidupan seolah  kadaluarsa.

“Selamat datang di pemukiman para penulis, tuan,” satu penjaja menyapa, “sebotol susu untuk menghilangkan dahaga?” Kamu menggeleng. Terlalu kecewa untuk minum susu.

Di kantongmu tersimpan sederet nama yang ingin kau temui di sini – Paul Bowles, Mohamed Choukri, Jean Genet, dan Tennessee Williams.  “Nama-nama itu cuma legenda, tuan.” “Mereka tak benar-benar ada.” Perempuan-perempuan itu mengerumuni kalian sambil mendesak-desakkan jajaan mereka. Kamu cuma diam. Protesmu akan sia-sia. Waktu memang bisa mengacaukan segalanya: ingatan dan mimpi, kenyataan dan imaji. Dia segera menggeretmu, berlalu dari situ.

Ketika akhirnya kalian tiba di taman Mendoubia, semua telah berubah. Sebentar lagi, Grand Socco akan dibanjiri turis-turis dari berbagai negara yang melenggang, seperti parade karnaval di musim panas. Sebentar lagi café-café akan menebar meja dan kursi hingga ke jalan. Kamu tertegun melihat gemerlap lampu-lampu yang menyala serentak dari deretan kios rempah-rempah, buah-buahan, dan barang bekas. Tak jauh dari sana, berderet taksi biru bergaris kuning. Di jalan, mobil-mobil melintas cepat seperti waktu. Berapa lama semua sudah berlalu? Dua puluh tahun? Tiga puluh? Kamu tak peduli. Dia tak peduli.

Pohon beringin raksasa berusia delapan ratus tahun itu masih ada. Gereja Anglikan berdinding batu itu masih tegak berdiri. Senja begitu merah dan kalian tak ingin berpisah. Malam mendekat dari tepi kota dan kaki kalian telah lelah. Kamu menatap matanya yang biru. Sembilan belas tujuh tiga bukan waktu yang baik untuk jatuh cinta. Tapi suatu hari, di tempat itu, kamu mencium bibirnya. Dia langsung yakin bahwa kamu adalah cinta sejatinya. Malam itu waktu berhenti.

“Nenek?” Aku berbalik. Tanpa suara, Abe sudah berdiri di pintu kamar. Kepalanya hampir menyentuh ambang. Aku memandangnya dengan kagum. Anak itu seolah bertumbuh besar dalam semalam. Seingatku belum lama dia menangis karena kucingnya kabur. Sepertinya baru kemarin dia mengamuk ketika layangannya putus dan rusak tersangkut pohon. Bocah cengeng dan pemarah itu kini telah pergi entah ke mana. Mungkin anak-anak memang menjadi dewasa lewat kehilangan-kehilangan.

“Kita pergi sekarang?” Ia mendekat. Aku mengikuti matanya yang mendarat di tanganku. Segera kubuka laci dan memasukkan lembar kertas yang kupegang ke dalamnya. Kurasa dia tahu. Dia cuma pura-pura tidak tahu. Di dunia ini, tak ada rahasia yang abadi.

Seharusnya kamu dan dia tidak berpisah. Namun dengan yakin kalian berjanji untuk bertemu lagi empat bulan kemudian. Dia pergi, dan tiga bulan sesudah malam itu, mendapati dagingmu di tubuhnya. Itu cukup untuk membuatnya tak bisa tidur empat hari penuh. Di hari ke lima dia membeli tiket ke Tangier untuk menemuimu. Di hari ke enam dia menemui dokter. Dia tidak ingin membuatmu takut. Tapi manusia adalah makhluk yang rapuh –  dia tak bisa melakukannya.  Kamu tak pernah tahu.

Aku meraih kerudung hitam di atas tempat tidur, berkaca dan mencoba tersenyum. Suamiku takkan menyukai wajah sedihku di pemakamannya, sama seperti tiga puluh delapan tahun yang lalu, ketika  ia memelukku dan berkata, “Aku mencintaimu. Aku ingin kamu bahagia.” Ia menepati janji. Mata tulusnya tak pernah keberatan dengan mataku yang sering pergi ke satu tempat di masa lalu. Laci itu menyimpan lembar-lembar yang tak membiarkanku pergi.

Kurasa, aku tak pernah bisa mengatasi kehilangan.

_____

Di tanganku, pasir tak menetes sebutir pun, meski kamu selalu kembali untuk menemuiku. Tahun demi tahun. Tiket-tiket itu tak pernah terpakai. Tapi aku selalu datang ke Tangier untuk menemuimu.

 

Kampung Utan, 11 Mei 2011, 01.26 am.

 

Darija dan Tarifit Berber – bahasa sehari-hari yang digunakan oleh penduduk Tangier. The Sheltering Sky – novel pertama Paul Bowles, penulis dan komposer Amerika yang menghabiskan hidupnya di Tangier. Kasbah – sebuah tipe kota yang lebih menyerupai benteng. Mechoui – salah satu makanan khas Tangier berupa daging kambing panggang yang dibaluri paprika, jinten, dan garam. Souk Dakhli – disebut juga Petit Socco, atau plaza kecil, pusat kota tua Tangier yang telah ditinggalkan. Rif – area pegunungan di Tangier. Mendoubia – sebuah taman di dekat Grand Socco. Grand Socco – atau plaza besar, terletak di antara kota tua dan Ville Nouvelle, pusat kota baru. Grand Socco adalah sebuah ruang publik di Tangier yang ramai dengan pasar malam yang menjual barang antik, buah-buahan, dan rempah-rempah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s