Requiem

Aku telentang telanjang di atas dipan keras sedingin es – kosong dari segala rasa. Ini bukan putus asa. Hanya kosong yang tak berujung pangkal. Pandanganku terbentur-bentur pada dinding ruang yang berwarna besi, dan berhenti pada seorang perempuan berbaju putih seperti biarawatdengan wajah datar. Sebuah pisau tergenggam di tangannya. Dua puluh sentimeter. Berkilat-kilat dan terlihat sangat tajam. Tiba-tiba sesungging senyum tertoreh di wajah itu. Tanpa bibir, hanya lubang mulut. Dia bergerak seperti menggeser dari sudut yang jauh ke sampingku.

Baiklah, kita akan mengeluarkan dosa dari tubuhmu, katanya lewat lubang itu, dengan suara dalam. Tangannya yang menggenggam pisau terayun turun. Lalu dia membuat sayatan berbentuk salib di dadaku. Berhati-hati dan pelahan. Dari bawah leher memanjang hingga ke pusar, lalu melintang dari bahu kiri ke kanan. Aku tak merasa sakit. Sama sekali tidak. Seraya bergerak, ia menggumam, seperti mengucap mantera: “..dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” “Amin”, jawabku.

Dengan itu darah merembes keluar. Kental berbau anyir. Mengalir ke sisi tubuh. Mengalir ke sisi dipan besi. Mengalir ke lantai. Biarawati itu berdiri dalam genangan darah. Dari mulutnya terapal bunyi bernada gelap, mengambang rendah dan berat di atas merah.

      Requiem æternam dona eis, Domine,

      et lux perpetua luceat eis.

      Te decet hymnus Deus, in Sion,

      et tibi reddetur votum in Ierusalem.

Seperti semut, suaranya merayap menyusup. Bergerak pelan merambati dinding-dinding rongga telinga, mencari jalan menuju otak.

      Exaudi orationem meam;

      ad te omnis caro veniet.

      Requiem æternam dona eis, Domine,

      et lux perpetua luceat eis.

Aku tumpul. Pejal. Suara itu sia-sia. Biarawati tadi berjalan menjauh. Bunyi sepatunya teredam. Tak menggema, di lantai  becek karena darah. Cek-Cek-Cek-Cek– lalu berhenti di satu sisi. Ia berbalik, mungkin  menatapku, meski tanpa mata.

____

Aku tak takut mati, ujarnya dari balik kepulan asap. Ia menghisap rokoknya yang  ketiga dalam setengah jam ini.

Rokok itu akan meracunimu, kataku.

Dia cuma tersenyum. Bulan mendekati bentuknya yang sempurna, membuat malam jadi tak terlalu gelap. Aku bisa melihat bibirnya yang tersungging sebelah. Senyum yang tak simetris.

Setiap orang lahir untuk mati, ia mencibir. Rokok ini cuma mempercepatnya sedikit.

Ia menumpangkan kakinya ke atas meja dengan kurang ajar, lalu terbatuk sedikit oleh asap yang tak terhembus.

Mati, katanya, tak pernah jadi sebuah urusan besar bagiku. Sama seperti malam. Atau pagi. Hanya sesuatu yang harus terjadi.

Kamu tidak takut mati? Tanyaku menegaskan.

Ia menggeleng. Aku lebih takut pada hidup yang seperti lotre. Hidup adalah beratus-ratus mungkin. Mati, itu sesuatu yang pasti.

Lalu dia diam. Seperti bersekutu, malam juga diam. Tak ada kentong hansip dan raung kucing garong. Tak ada angin yang menyisir debu jalan. Panas.  Bau kenanga melintas, entah dari mana.

Kami berhadapan. Aku memandanginya. Matanya tepekur pada satu titik,  jauh di langit. Cuma bibirnya yang tak henti menghisap dan menghembuskan asap. Abu kelabu bertebaran di dadanya. Ia tak peduli. Dan tetap begitu hinga menit-menit terbang, berkelindan di antara asap lalu hilang. Ketika batang rokok itu hampir habis terbakar, ia kembali – seperti tersadar dari tidur. Ditekannya puntung dua senti itu ke asbak yang setengah penuh.

Tiba-tiba dia berdiri, dan pergi. Begitu saja. Tanpa selamat tinggal atau sekedar lambaian tangan. Benar-benar kurang ajar. Punggungnya menjauh, lalu hilang di kelokan. Aku cuma melongo, tapi tak bisa protes, tentu. Aku tak mengenalnya.

Perempuan itu tiba-tiba datang. Dia muncul di korek api ketiga yang kunyalakan.

____

      Berkatilah mereka dengan istirahat yang kekal, Tuanku,

      dan biarkan cahaya abadi bersinar atas mereka.

Tak ada cahaya jatuh di atasku. Ruang bahkan meremang. Batas pelan-pelan sirna. Aku kehilangan dimensi dan kesadaran. Dari balik mata yang hampir terkatup, mulut biarawati itu tak juga tertutup. Gelap. Dia mengangkat tangannya yang masih menggenggam pisau.  Bergelimang darah.

      Puji-pujian telah dipersembahkan untukmu, Oh Tuhan, di Zion,

      dan kepadamulah segala sembah dihaturkan di Jerusalem.

      Dengarkan doaku, padaMu semua tubuh kan berpulang.

Kemana aku akan pulang? KepadaMu? Tapi tubuh ini telah terbelah. Aku tak bisa pulang. Tidak padaMu. Tidak ke rumah. Tidak ke mana saja, meski itu pun satu tujuan.

Di tempatnya, biarawati itu memudar. Tubuhnya jadi semacam siluet. Aku mulai kehilangan bobot. Enteng. Melayang tanpa arah. Naik ke langit-langit yang putih, dan terkatung-katung di sana. Darah jadi benang-benang merah penyambung tubuh dan lantai. Semenit. Tujuh menit. Dua belas. Selamanya. Tapi suara itu terus mendengung, mengekalkan aku yang telah hilang denyut, tak lagi tahu tentang waktu.

      Berkatilah mereka dengan istirahat yang kekal, Tuanku,

      dan biarkan cahaya abadi bersinar atas mereka.

Suara itu lalu berhenti. Tanpa gaung. Tak bersisa. Selain tetes darah yang tak kunjung henti, selebihnya sunyi.

Tiba-tiba langit pecah berkeping jadi serpihan tak terhingga cahaya yang melesat melampauiku, menembus tubuh yang tak lagi merasa. Tak lagi mengerti. Aku hilang, hampa, tapi ada, meski entah di mana. Sekejap saja, dan kilatan cahaya itu hilang. Di hadapanku tinggal kelam yang padat. Pelahan aku terhisap. Gelap itu menyudahi segalanya, kecuali tanya yang berdenging seperti nyamuk di telinga: inikah istirahat kekal itu?

____

Batang pertama cuma jadi arang yang langsung kubuang. Tak ada harap yang menyertai perubahan bentuk itu. Yang kedua, kunyalakan selagi bimbang: merokok atau tidak. Hati kecilku akan bilang tidak, aku telah memutuskan untuk berhenti sebulan yang lalu. Tapi sekotak selalu masih ada di kantong. Baju atau celana. Siapa tahu. Dan malam ini, aku tahu, aku memerlukannya. Setan!

Memang, setan akan bilang: merokok sajalah.

Lalu di korek ketiga, seorang perempuan tiba-tiba menundukkan wajahnya di atasku. Jantungku terlonjak, tak sempat terkejut. Tak sempat bertanya. Tak kudengar langkahnya mendekat. Dia tiba-tiba ada. Udara sesaat beku. Perempuan itu mendekatkan jarak. Sebatang rokok terselip di bibirnya. Boleh? Tanyanya menembus mataku. Aku mengangguk tanpa pikir. Apiku langsung menjilat ujung rokoknya. Wajahnya tertangkap di terang kecil yang cuma beberapa detik. Cantik, tapi pucat. Blus dan celana hitam ketat. Ia duduk setelah bara menyala. Satu tarikan dalam dan sekepul terhembus. Tanpa melihat padaku ia berkata: merokok sajalah.

Aku terkejut. Takut. Sulit untuk terlihat tetap tenang. Seekor kelelawar melayang rendah nyaris menyambar kepala. Binatang rabun itu berputar-putar sejenak, lalu melesat menembus gelap.

Dari mana kamu tahu aku ingin merokok?

Ia cuma mendengus. Dari muka tololmu.

Sialan, desisku.

Semua pecandu punya ekspresi ketagihan yang sama, katanya. Pecandu? Ia meletakkan tangannya di atas meja, menghadap ke arahku. Di sana, banyak sekali gurat-gurat bekas sayatan yang saling silang, lebih putih dari warna kulit sisanya. Gila. Kataku, itu akan membunuhmu.

Dia tertawa. Pelan awalnya. Lalu terbahak-bahak. Dia menertawakan kekuatiranku seperti sebuah lawakan yang tak lucu. Tiba-tiba tengkukku dingin.

Bulan pelahan tertutup awan. Lewat tengah malam, di sisi gang kecil pemukiman sesak, teras rumah kontrakan yang tak terlalu luas, pada bangku dan meja kayu reyot, disaksikan seorang perempuan yang muncul tiba-tiba, yang membuat mati jadi tak asing – aku menyulut rokok pertamaku dalam sebulan, dengan tangan sedikit gemetar.

___

Udara dalam ruang itu lembab. Beberapa bagian dinding mulai mengidap lumut. Hijau gelap. Hujan di luar mendetak-detakkan ujungnya pada genteng, daun-daun, dan muka jalan. Jam di dinding mendetak-detakkan jarumnya pada detik. Semua bergerak dalam ritme. Kecuali jantungku. Aku meraba dada. Tak ada detak. Tak ada gerak. Cuma kulit yang makin lama makin dingin.

      Requiem æternam dona eis, Domine,

      et lux perpetua luceat eis.

Deretan konsonan dan vokal itu menyusup dari pori-pori dinding, memberati lembab, telantar di ruang yang kosong.  Tiba-tiba di ujung sana sebuah pintu terbuka. Bercahaya. Seperti laron, tubuhku tertarik.

      Te decet hymnus Deus, in Sion,

      et tibi reddetur votum in Ierusalem.

      Exaudi orationem meam;

      ad te omnis caro veniet.

Gumam itu makin berat. Di balik pintu, tubuh-tubuh berdesak-desak. Mereka terbalut baju yang nyaris serupa satu dengan yang lain, menghadap ke satu arah, membelakangiku. Aku bergerak maju, menyusup ke dalam gerombolan. Pelan, tubuh-tubuh itu menyingkir memberi jalan. Kepala-kepala itu berpaling. Aku mendadak beku. Tak ada wajah di situ. Cuma lubang mulut tanpa bibir.

Aku berteriak dan terbangun. Ini cuma mimpi, kataku, dengan jantung yang menonjok-nonjok rongga dada kuat-kuat. Tapi perempuan itu menyentuh bibirku dengan jarinya yang dingin. Bisiknya, jangan takut. Tanyaku, apakah aku sudah mati? Dia tak menggeleng, tak mengangguk. Katanya, jangan berisik. Berbisiklah, agar maut tak mendengarmu dan terlambat menjemput. Aku tak mengerti. Tapi ia mendekat, dan berucap di telingaku. Tirai itu akan menutup akhirnya, tapi kamu akan senang, karena  pernah menunda dan mengecoh Malaikat Kematian. Lalu bibirnya mengecup telingaku.

Aku menggigil. Ini begitu nyata, aku pasti sedang bermimpi. Perempuan itu pelan-pelan menghilang, tapi dingin di bibirku tak juga hilang.

____

Sekali lagi malam jatuh dan menindihku begitu berat. Setelah kegagalanku berpantang kemarin, sebatang rokok telah terjepit di antara jari, siap jadi pelarian. Tapi aku tahu, bukan itu yang kuinginkan. Perempuan itu dengan kurang ajarnya memenuhi kesadaranku. Sialan! Dia seperti sensasi yang tiba-tiba terjadi di hidupku yang membosankan dan sepi. Aku tak tahu siapa dia dan apa yang diinginkannya. Ia bahkan sedikit membuatku takut. Tapi kehadirannya mengusik. Dia hadir misterius dan cantik, membuatku penasaran.

Tapi bukan itu saja. Sesudah begitu lama berusaha mematikan hasrat, harus kuakui, aku terangsang. Paling tidak, sejak malam itu, sudah tiga kali aku menggumulinya dalam kepala. Goblog!

Hujan yang tanggung mengurungkan niatku mendinginkan diri di luar. Aku membuka tirai jendela. Ia berdiri di sana, di bawah lampu jalan – entah telah berapa lama. Masih dengan wajah pucat dan celana hitam ketat. Gerimis membuatnya bergaris-garis.  Kali ini rambutnya tergerai, memanjang hingga dada. Basah. Kami bertatapan lama. Seekor kucing tiba-tiba lewat di bawah kakinya, berhenti sejenak seperti bingung, tapi pergi tanpa mengusiknya.

Apa yang kau lakukan di situ? Bibirku mengirim sebuah pertanyaan yang  menembus kaca. Dia membuang muka tak menjawab. Sialan. Tetap saja aku cemas. Dia bisa sakit, berhujan-hujan seperti itu. Aku bergegas beranjak dari jendela, menggamit payung yang tersandar di sudut. Angin menghembus seketika pintu kubuka. Dingin yang mengiris membuatku bertanya lagi, apa yang dia lakukan di situ? Tapi langkahku terhenti oleh kecewa. Perempuan itu telah pergi. Tinggal lampu jalan dengan pendar yang kuyup. Di kejauhan, seekor anjing melolong..

____

Aku terbangun oleh kutukan itu: pagi. Aku bukan seorang insomniac. Aku hanya orang dengan jam biologis yang terbalik. Entah sejak kapan aku membiarkan tubuhku didikte oleh malam.  Mungkin sejak pesta jadi bagian dari kerja dan seks memenuhi jadwal dari Senin hingga Sabtu. Di hari ke tujuh – aku beristirahat dan memandang, dengan mata yang selalu mabuk, bahwa semua baik adanya.

Aku keliru. Tubuhku berkarat.

Matahari membekap wajahku dengan cahaya yang menyilaukan. Aku megap-megap. Sial, aku lupa menutup tirai semalam. Perempuan itu. Kenapa dia tiba-tiba hilang? Sempoyongan aku berjalan ke kamar mandi dengan dia menggelayut di kepala. Tak mau lepas. Kemunculannya selalu tiba-tiba. Juga perginya. Aku tak terlalu yakin kini, apakah ia mimpi atau bukan. Di pagi yang sesak oleh terang, ia – sama seperti gerimis semalam – tak lagi nyata.

Ia membuatku gemas, juga sebal. Tidak takut mati, katanya. Pembual. Tak ada orang yang tak takut mati, meski tak bisa mengelak. Aku takut. Itu bukan rahasia. Aku ketakutan sejak setahun yang lalu tubuhku disusupi virus itu. Penyakit para pendosa – begitu orang bilang. Penyakit orang sial – begitu kataku. Gejalanya tepat. Hasil pemeriksaan darahku pun tak sanggup menyangkal. Vonis itu kematian. Dan sejak itu, jam pasir hidupku telah dibalikkan.  Tapi perempuan itu mengejekku dengan menyepelekan maut. Senyum sinisnya menempel di cermin, membuat wajahku kelihatan semakin buruk.

Aku bersandar pada wastafel, memandangi pipi yang telah kehilangan begitu banyak lemak. Belakangan ini aku semakin sering merasa lelah. Dan napasku makin pendek, tersengal-sengal. Hampir setiap malam tubuh ini demam, dan aku selalu bangun dengan badan basah keringat. Dokter bilang, ada masalah dengan paru-paruku. Harusnya anda tidak merokok, pesannya. Tapi dua hari yang lalu, aku betul-betul tidak tahan. Aku kesepian. Penyakit ini secara drastis telah mengucilkanku dari dunia. Ia penjara yang lebih nista dari lepra. Bercak merah yang tak wajar di sekitar leher dan tanganku seperti sebuah pengumuman yang mengenyahkan teman dan keluarga. Bahkan ibuku pun berhati-hati menyentuhku. Aku terpaksa sembunyi di sini agar mereka tak malu dan takut. Ah, sudahlah. Mereka semua goblok. Kecuali perempuan itu.

Dia menghampiriku. Apakah dia tak tahu?

____

Di balik pintu itu, ia menunggu, bukan dengan sabit berkilat dan tudung yang menyembunyikan muka tapi sosok hitam tanpa wajah yg menghantui tidurku. Wajah yang akan membuat  satu torehan yang menganga  gelap. Serupa bayangan.  Aku selalu yakin, gelap itu sebuah lubang tanpa dasar yang akan menghisap jiwa sampai habis, kering, seperti sumsum yang dilolos dari tulang belakang – menyisakan hanya tubuh yang dingin dan kosong.

Di balik pintu ini aku dingin dan tak bisa bergerak. Tapi ketuk itu berulang. Kali ini lebih keras. TOK! TOK! TOK! TOK! Empat kali. Lalu sepi. Aku menggigil dari  ujung kaki ke ujung kepala. Lama.

Tiba-tiba sebuah suara perempuan terdengar. Agak serak. Aku tahu kamu di situ, katanya. Perempuan itu! Tubuhku seketika lemas karena lega. Ketakutan menguap. Apa yang diinginkannya dariku?  Aku membuka pintu dengan tergesa. Ia berdiri di sana, matanya menghunjam mataku.

Aku tahu, katanya tanpa ekspresi, menjawab kegelisahan dalam batok kepalaku.

Dia melangkah melewatiku. Lalu berdiri di tengah ruang. Ia menatapku, tapi di matanya tak kutemukan apa-apa.

Kalau kamu tahu, kenapa kamu datang, tanyaku. Perempuan itu tak menjawab. Ia datang tanpa apa-apa. Hanya membawa tubuh yang kini terbalut blus putih dan jins ketat. Langsing, cenderung kurus. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Pipi itu cekung, walau tak separah pipiku. Meski demikian, ia tetap cantik. Cantik yang biru dan sedikit menakutkan.

Tiba-tiba ia kembali, mengangkap mataku yang tak sempat lagi mengelak, dan sesuatu melontarkanku seketika ke satu masa, satu tempat, yang tak jelas. Aneh, aku seperti pernah mengenalnya. Entah kapan, entah di mana. Memoriku bekerja keras mengaduk tumpukan imaji dalam kepala. Mata itu. Bukan. Bukan matanya, tapi kehadirannya. Ia tak asing. Bawah sadarku mengenalnya dengan cara yang aku tak tahu. Aku gelisah. Dan, gila, ereksi. Perempuan itu terasa begitu intim.

Aku belum berhasil meletakkannya pada satu titik, ketika dia mendekat dan melekatkan tubuhnya pada tubuhku. Aku menahan napas. Juga nafsu. Tangannya memeluk pinggangku. Aku tak tahan lagi. Kudorong tubuhnya yang ringkih dengan kasar ke dalam kamar.

Mungkin birahi sudah naik mencapai ubun-ubun. Aku menerkamnya dan menghempaskannya ke kasur. Ia mendesah pasrah, tergolek di sudut tempat tidur dengan mata tertutup dan bibir sedikit terbuka. Aku mencabik bajunya dengan paksa, tak sabar melepas kancing satu demi satu, Beberapa terenggut putus dan jatuh ke lantai dengan bunyi berdenting nyaring.

Dengan kasar kusingkap bajunya, dan seketika tersengat. Terjengat mundur. Sempoyongan. Napasku tertahan entah di mana. Di tubuhnya yang telentang terbuka, sebuah luka bekas sayatan masih meradang – dari bawah leher memanjang hingga ke pusar, lalu melintang dari bahu kiri ke kanan. Matanya yang terpejam lantas terbuka – tajam memaku mataku.

“Amini aku.”

Suara itu sedingin es. Pelahan, wajahnya meleleh. Mata, hidung, bibir – melebur jadi lembar tanpa kontur. Tinggal sebuah lubang gelap yang merapal:

      Requiem æternam dona eis, Domine,

      et lux perpetua luceat eis….

 

Jakarta, 1 maret 2009

Iklan

One thought on “Requiem

  1. saya tak tahu apa persisnya yang ingin disampaikan oleh tulisan di atas, kecuali kisah tentang hati kacau sang perokok. Tetapi saya suka membacanya karena penuh pesona horor atau misteri atau sebangsanya itu. Selain itu saya sangat kagum atas kekayaan dan kemampuan anda mengubah inspirasi menjadi kalimat sehingga orang lain bisa menikmatinya.
    salam kenal dari saya Oldman Bintang Rina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s