Pagi di Taman

Kedua laki-laki tua itu duduk di bangku taman, bersisian seperti buku di rak yang reot. Angin mengusik rambut mereka yang abu-abu. Selembar koran bekas yang melayang-layang di atas rumput akhirnya mendarat di ujung sepatu mereka yang bundar. Tak satu pun peduli untuk menyingkirkannya. Keduanya masih mengenakan overcoat yang menenggelamkan tubuh. Matahari memang belum hangat. Musim dingin baru lewat. Pagi itu lamat-lamat terendus wangi ceri. Suara-suara kota mendesir di antara ranting dan daun-daun, lalu turun pelan-pelan di tepi kuping.

Tak ada yang bicara. Masing-masing sibuk memutar ulang gambar-gambar dalam kepala. Di bangku itu mereka menamakannya “kenangan” – segala sesuatu yang tertinggal. Seperti jejak pada debu.

Bertahun-tahun yang lalu, sulit membayangkan hari ini. Bahkan sekarang pun, rasanya masih aneh berusia tujuh puluh. Banyak hal telah berubah, banyak hal tetap. Mereka  tetap bertetangga dan masih berbagi kopi di malam hari. Tiga hari sekali keduanya akan berbelanja ke pasar, membeli roti, susu, daging, dan berbagai keperluan remeh harian. Tiap Rabu, mereka berjalan ke gedung pertemuan di sebelah kantor walikota, bermain bridge bersama orang-orang tua lain. Sesekali akan datang sekelompok anak muda yang memainkan musik untuk mereka. Anak-anak muda yang rajin ke gereja di hari Minggu dan penuh semangat menjawab, “Baik sekali!” jika kita bertanya, “Apa kabar?”

Apa kabar. Keduanya sudah lupa, kapan terakhir kali mereka saling menyapa dengan kalimat itu. Mungkin jika kita hidup cukup lama, hari-hari akan terasa sama. Kemarin, tiga hari lalu, minggu lalu, bulan lalu, bahkan tahun lalu, tak lagi amat berbeda dengan pagi ini. Waktu, jangan-jangan adalah segelas air  yang menyapu segala yang pernah kita kecap – manis, pahit, asam, pedas, dan asin – dari lidah, meninggalkannya kembali hambar dan netral. Rasa jadi sesuatu yang begitu kini. Seperti sandwich Dom pagi ini.

“Aku lupa membeli keju lembar kemarin,” lelaki itu menggaruk dagunya yang tak gatal. “Keju yang kumakan tadi sudah keras dan liat. Aku seperti mengunyah karet tipis, bukan roti lapis.”

Sam terkekeh pelan. “Kita senasib,” katanya, “aku lupa membeli pasta gigi. Semalam aku terpaksa menyikat gigiku dengan sabun cair.”

Keduanya terbahak. Beberapa merpati yang sedang berjemur di dekat kaki mereka langsung terbang karena kaget.

“Sabun cair! Hahahaha… Bagaimana rasanya?”

“Seperti sup bikinan Mathilda!”

Mereka tertawa hingga terbungkuk-bungkuk.

Mathilda, Mathilda. Mathilda Mendez membersihkan rumah mereka. Ia datang seminggu dua kali. Perempuan gemuk yang selalu ceria dan rajin bekerja. Menyapu, menyingkirkan debu, membuang sampah, membersihkan kaca jendela, menjaga rumput di halaman agar tak terlalu tinggi, dan menjamin toilet tetap harum – adalah tugasnya. Memasak – bukan.

Tapi secara teratur, ia akan membersihkan isi kulkas dan memanfaatkan apa saja yang hampir kadaluarsa di dalamnya. Sebagai imigran dari negara miskin, ia merasa berdosa jika ada makanan yang dibiarkan membusuk. Meski begitu, ia bukan tukang masak yang baik. Bacon gorengannya selalu garing dan gosong. Omlet bikinannya selalu keasinan. Pasta kreasinya (Dom dan Sam kesulitan mendefinisi apa sesungguhnya yang dibuat Mathilda) terasa seperti obat sakit tenggorokan.

Tapi tak ada yang mengalahkan supnya. Kedua laki-laki itu selalu pucat jika Mathilda menyuguhkan sup masakannya di meja: cairan bening berwarna kekuningan dengan potongan sayur dan berbagai hal yang berhasil ditemukan perempuan itu di lemari pendingin. Hal-hal yang tak wajar berada dalam sup. Sobekan roti (yang sudah membesar dan sedikit hancur karena basah), cacahan bawang, potongan mi, gilingan kacang, bahkan butiran kismis dan plum.

Selain berbau sangit, entah kenapa, sup itu selalu membuat Dom teringat pada kencing kuda. Sam menyebutnya ‘racun dari neraka’. “Mungkin ia memang ingin meracuni kita,” selorohnya.

Tapi mereka tahu, Mathilda berhati emas dan tak mampu membunuh seekor semut sekalipun. Ia hanya perempuan yang baik dengan maksud mulia – kombinasi yang membuat bahkan orang tua tak sabaran seperti Dom dan Sam sekalipun tak tega menyakiti hatinya. Mereka hanya bisa menabahkan diri, menyuap sendok demi sendok makanan itu di depan Mathilda yang berdiri menunggui dengan senyum senang. Sup Mathilda adalah salah satu hal yang membuat Dom dan Sam semakin merasa senasib sependeritaan.

“Sudah, sudah,” Sam memegangi perutnya yang sedikit kejang. Dengan punggung tangan, ia menyeka air mata di pipinya yang sekusut kain lupa digosok. Ia selalu begitu jika terlalu geli. “Kita tak berdaya tanpanya.”

“Aku tahu,” Dom masih terkekeh, berdiri meluruskan kaki.

Ia menjumput koran di ujung sepatunya. Halaman iklan. Matanya tertumbuk kolom obituari, pada sebuah nama yang ia kenal. “Hei! Kau ingat Monk? Ia meninggal minggu lalu!” Disorongkannya lembar tadi pada Sam yang lantas  memincingkan mata, berusaha membaca huruf-huruf yang tercetak kecil-kecil itu.

“Oohhhh….,” ujarnya. Entah apa maksudnya.

Di hari-hari ini, berita kematian tak lagi mengejutkan dan membuat sedih. Berbeda dengan belasan tahun lalu ketika semua yang ia kenal masih ada. Berbeda dengan tujuh tahun lalu ketika Doris meninggalkannya. Doris yang tabah akhirnya menyerah kalah pada penyakit yang menggerogoti paru-parunya. Sam mengembalikan koran tadi ke Dom yang melipatnya dengan rapi, mengepitnya di ketiak, dan  kembali duduk.

Sekali lagi kesunyian hadir di antara mereka berdua seperti orang ketiga – sosok asing yang tak pernah bisa mereka akrabi.

Di hari Doris pergi, kesunyian yang sama pelan-pelan datang, menempati kursi yang biasa ia duduki di meja makan, berlutut di samping rumpun mawar di halaman depan, mengisi sisi kosong di tempat tidurnya, berdiam di sofa di mana Doris selalu menghabiskan sore sambil merajut. Meski tanpa bentuk dan wajah, Sam tak pernah gagal mengenalinya.

Sam tak lagi sedih. Ia tak bisa mengatakan kapan tepatnya rasa itu hilang. Tak seperti luka yang dalam, kesedihan pergi tanpa bekas. Mengingat Doris hari ini hanya sanggup sedikit menghangatkan ruang yang makin lama makin kecil dalam hatinya. Tapi kesunyian itu tinggal makin jelas. Suara yang makin lama makin keras. Kadang begitu nyaring, hingga ia tak lagi bisa mendengar apa-apa. Seperti baru saja. Dom menggamitnya. Sam terlonjak kaget. “Aku bilang, Monique tak akan datang di hari ulang tahunku nanti,” ulangnya lantang. Sam menggerutu, “Aku tidak tuli.” Dom tak peduli.

“Ia menelponku tadi pagi,” lanjutnya, “ia bilang, Kiki sakit gigi.”

Kiki adalah anjing Monique. Monique anak Dom satu-satunya. Ia tinggal di kota sebelah yang berjarak tempuh sekitar dua jam saja dengan mobil. Dom mencintai Monique. Monique mencintai Kiki. Sebuah hubungan segitiga yang agak rumit.

Natal tahun lalu, ia tidak datang karena Kiki terserang gatal-gatal. Dokter hewan bilang, anjing peking itu alergi terhadap udara dingin. Thanks Giving tahun ini juga terpaksa dilewatkan Dom hanya bersama Sam, karena kuku Kiki patah ketika ia mengejar rubah di halaman belakang. Lain kali, Monique bilang, anjingnya itu kena selesma, hingga ia tak bisa menemani Dom pergi ke dokter memeriksakan rematiknya yang kumat berkala.

“Aku baru tahu kalau anjing bisa sakit gigi,” ujar Sam. Dom cuma mengangkat bahu. Ia juga, tapi tak ingin lebih jauh mencari tahu. Sesuatu di dalam hatinya melarangnya melakukan itu. Dom tetap ingin percaya bahwa Monique memang tak bisa datang karena alasan-alasan yang dikatakannya. Karena itu ia hanya diam ketika kunjungan-kunjungan yang awalnya sebulan sekali, kemudian berkurang jadi empat  bulan sekali, lalu setahun sekali. Monique selalu minta maaf. Dom selalu memaklumi. “Tak apa, sayang. Aku mencintaimu.”

Sekarang, sudah tiga tahun Monique tak pulang. Dom cuma bisa menyimpan rindunya.

Ia simpan rindu itu di kotak sepatu di dasar lemari. Sesekali, jika ia benar-benar kesepian, laki-laki tua itu akan menarik kotak itu dari tempatnya yang gelap, dan mengeluarkan isinya satu-satu: surat-surat, kartu-kartu ucapan, foto-foto keluarga lama yang sudah menguning, ijasah-ijasah usang, dan cincin pernikahan yang tidak pernah dipakainya lagi semenjak Cecil meninggalkannya dan bayi enam bulan mereka untuk pergi bersama seorang gitaris rock, entah ke mana.

Dom tak pernah berhenti mencintai Cecil. Ia cuma berhenti mendengarkan musik.

Sam melirik sahabatnya. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Dom. Pelan ia menepuk lututnya. “Tentang ulang tahunmu,” ujarnya dengan suara  ceria yang sedikit dipaksakan, “kita buat pesta. Kita undang semua teman kita biar meriah!”

Dom menghitung dengan jarinya. “Kamu lupa, teman kita tinggal tiga.”

Sam tersenyum. “Aku tahu.”

Keduanya tertawa.

“Baiklah. Kita bikin pesta sampai pagi. Aku akan minta Mathilda memasak untuk kita!”

Keduanya terbahak-bahak, tak peduli pada pandangan aneh ibu-ibu yang mulai datang dengan kereta bayi dan anak-anak yang sibuk berlari-lari.

Matahari makin tinggi. Bayangan-bayangan makin pendek. Dom menengok arloji tua di tangan kanannya. “Jam sepuluh. Mau kopi?” Lewat ekor matanya ia melihat anggukan Sam. Keduanya berdiri, pelan-pelan melangkah meninggalkan taman. Di ujung jalan sudah terlihat papan suram bertuliskan “Sebastian Coffee”.

Papan itu telah berada di sana sejak – entah.

 

3 April 2011, 15.52, Sebastian Coffee

(Cerpen ini muncul di antologi “Dari Datuk ke Sakura Emas”)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s