Kopi Kering

K adalah untuk Kopi. Bukan Kuteks atau Kolor, yang keduanya jarang saya pakai. Tapi di Bakoel Koffie sektor 7, Bintaro, bukan Kopi yang pertama-tama menohok saya, melainkan Kering – dalam arti sebenarnya, juga sebagai metafor.

Mungkin saya datang di waktu yang salah. Setengah dua belas siang belakangan ini memang bukan waktu yang bersahabat. Dari seberang jalan (tempat ini tidak menyediakan tempat parkir sehingga saya harus parkir di bangunan seberang jika tidak ingin mengakibatkan kemacetan lalu lintas), Bakoel Koffie tak terlihat sejuk. Hanya ada dua trembesi mini di depan, yang mungkin baru akan rindang 10 tahun lagi. Selebihnya: Kering.

Perkerasan menutupi hampir seluruh lahan. Hanya tersisa sedikit tanah yang benar-benar bebas di bagian belakang, yang luasnya mungkin sekitar 10% dari lahan keseluruhan. Saya tidak tahu bagaimana Andra Matin menyikapi kurangnya area resapan di bangunan ini.

Kering juga terasa di teras depan yang berada sedikit di atas jalan, dan teras samping yang terletak di ketinggian lantai dua. Andra Matin bilang, bangunan ini belum selesai. Mudah-mudahan akan ada penutup di kedua area tadi sehingga duduk-duduk di situ tak terasa seperti menjemur diri di lapangan bola. Mudah-mudahan penutup itu ‘hijau’ – sebentuk kompensasi dari bentang beton yang memonopoli pandangan.

Dari seberang jalan juga (saya menunggu cukup lama untuk berani memotong arus kendaraan yang padat dan kencang), bangunan ini cukup menyolok. Ia mudah terlihat meski kita tidak benar-benar mencari. Karakter kisi-kisi kayu itu mencuat kuat di antara rumah-rumah lain yang ‘biasa-biasa saja’, mendominasi hampir seluruh ‘pesan’  dari tampak muka.

Tapi ada yang salah dari proporsi bangunan secara keseluruhan. Secara horisontal, ia nyaris memenuhi lebar tapak – dari kiri ke kanan. Hanya tersisa sekitar 1,2 meter untuk tangga di kiri dan, mungkin, sekitar 3 meter di kanan, sehingga lahan terasa ‘sesak’. Dan dominasi kisi-kisi kayu makin menegaskan kesesakan mendatar ini.

Terbalik dengan efeknya secara vertikal. Cingkrang mungkin kata yang tepat. Separuh lebih tiang-tiang besi yang dibiarkan telanjang, tidak tertutupi oleh kisi-kisi kayu, meninggalkan kekosongan yang tanggung. Saya tahu, ada alasan kuat di balik berhentinya batas bawah kisi-kisi yang seolah tak berdaya ini, yaitu agar pandangan dari mezanin ke arah jalan tidak tertutup. Tapi saya juga tahu, Andra Matin pernah menyelesaikan masalah yang sama dengan lebih baik di kantor desain grafis Leboye, dua belas tahun yang lalu.

Masih bicara soal proporsi, teritisan atap juga terasa ‘seadanya’. Muncul dengan malu-malu. Dibanding proyek-proyek Andra Matin lain yang biasanya bikin pusing konsultan struktur, atap di sini tak bicara apa-apa. Ditambah dengan tingginya tiang-tiang struktur yang telanjang, tampias kala hujan sudah pasti terjadi. Tapi, ini juga bukan hal baru. Meski begitu, lagi-lagi saya berharap, ini akibat pembangunan yang belum selesai.

Tinggi. Ini mungkin satu upaya Andra Matin untuk mengatasi panas. Logikanya, semakin tinggi atap, semakin jauh jarak antara ruang radiasi panas ke area ruang yang dihuni. Sebuah eksperimen yang patut diacungi jempol. Tapi sayang, ruang di lantai dasar menjadi kehilangan keintimannya. Berada di sana, kita seperti berada di sebuah hanggar pesawat terbang tanpa pesawat. Hanya ada beberapa ‘baling-baling’ saja yang memutar pelan.

Padahal kopi berasosiasi dengan skala yang personal. Ruang-ruang kecil yang ‘terjangkau’. Sambil minum kopi, kita tak keberatan duduk berdempetan, dengan lutut saling bersentuhan. Ruang-ruang dengan batas yang teraih oleh ekor mata kita – bukan yang ‘jauh di sana’ atau ‘tinggi di atas’. Duduk di kursi-kursi kecil dan pendek di lantai dasar, saya merasa seperti berada di pulau ‘seating group‘ di tengah lautan ruang kosong. Liliput di negeri Guliver.

Hal lain yang juga mengganggu adalah bising kendaraan dari jalan. Meski telah ditutupi oleh gudang di bagian depan, polusi suara masih nekad mendera telinga. Bahkan di mezanin yang rapat tertutup kaca. Bisa dikatakan, area ini adalah ruang yang paling nyaman dari seluruh bangunan. Sejuk karena ber-AC, tidak terlalu berisik, dan memiliki skala yang pas. Satu-satunya tempat di mana saya bisa kembali menempelkan kata Kopi pada K.

Beberapa detail memang tetap menarik. Terutama dari pengolahan grafis yang jenaka. Tapi banyak juga yang tetap tidak terolah dengan baik. Seperti sky light yang tetap bocor di daerah kamar mandi dan tangga dengan landing yang terlalu sempit (secara proporsi) di sebelah kanan. Sisanya adalah jurus-jurus lama.

Hubungan ruang yang cair masih menjadi andalan Andra Matin. Keterkaitan visual satu ruang dengan ruang lain menciptakan pengalaman voyeur dan flaneur yang menarik. Bangunan ini juga sangat fotogenik. Kita masih tetap bisa menikmati bagian-bagiannya secara terpisah. Tak akan sulit mencari sudut-sudut cantik untuk halaman-halaman majalah desain dan gaya hidup. Tapi secara keseluruhan, proyek ini ‘kering’ akan hal baru.

Catatan: Supaya adil, saya akan membuat review lagi jika proyek ini sudah benar-benar selesai nanti. 🙂

November, 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s