Air

“Sama seperti yang haus akan mencari air, demikian juga air akan mencari yang haus.” – Rumi

Kita, yang hidup di kota besar seperti Jakarta, mungkin takkan pernah benar-benar merasa haus. Air, substansi yang begitu penting untuk untuk seluruh kehidupan di bumi ini dengan mudah bisa kita peroleh. Tinggal memutar keran atau memencet kenop, dan segelas air siap kita minum. Kalaupun kita tinggal di area yang sulit air, seperti di Jakarta Barat dan Utara, kita masih tetap bisa mendapatkan air di depan pintu rumah, meski dengan membayar mahal.

Tapi, mari kita beranikan diri berhadapan dengan fakta-fakta ini:

1/6 dari seluruh populasi dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih.

  • 2,5 milyar orang (sebagian besar di negara berkembang) tidak memiliki toilet, atau tempat buang air yang layak, sehingga kotoran dengan mudah mencemari air tanah yang diminum sehari-hari.
  • Sejumput kecil kotoran manusia mengandung 1.000.000.000.000 virus dan 10.000.000 bakteria. Tanpa sanitasi yang baik, sumber-sumber air dapat terkontaminasi. Dan orang yang meminumnya dapat terjangkit penyakit seperti kolera, yang bisa mengakibatkan diare yg parah.
  • Setiap menit, 4 orang di dunia meninggal disebabkan oleh penyakit yang timbul akibat penggunaan air yang tidak bersih. Di seluruh dunia, diare membunuh 4100 anak perhari. 90% diantaranya berusia di bawah 5 tahun. Kematian akibat dehidrasi dapat terjadi dalam waktu beberapa jam setelah gejala diare muncul.
  • Tubuh anak-anak yang meminum air yang tidak bersih seringkali menjadi tempat bersarangnya tidak kurang dari 1000 cacing parasitik.
  • Setiap tahunnya, 443 juta hari sekolah hilang akibat diare atau penyakit lain diakibatkan oleh konsumsi air yang tidak bersih.
  • Para gadis sering dipaksa meninggalkan sekolah mereka untuk mencari air. Jika hal ini berlanjut hingga dewasa, maka akan mengakibatkan disempowerment dari perempuan.

(Data didapatkan dari GOOD Transparency, WHO, UNICEF, U.N. Water, Population Service International).

Ada baiknya kita mencetak fakta tersebut di atas besar-besar pada selembar kertas berukuran A1, dan menempelkannya di dinding tepat di depan meja kerja kita. Kenapa? Melihat apa yang disajikan majalah-majalah desain dan gaya hidup akan membuat kita mengerti, betapa jauhnya praktek arsitektur yang kita jalani sehari-hari dari masalah sebagian besar masyarakat kita sehari-hari.

Kita lalu bertanya, apa yang bisa kita lakukan? Kita toh tak bisa datang ke daerah-daerah terpencil seperti Zidane yang, dengan dukungan produsen air mineral yang sahamnya ia punyai, mengupayakan pengadaan air bersih untuk daerah tersebut? Mungkin tidak. Tapi kita bisa mulai dengan langkah-langkah kecil.

Seperti Adi Purnomo. Ia menyadari bahwa masalah krisis air, terutama di Indonesia yang curah hujannya tinggi – di beberapa daerah seperti di Jawa dan Bali bahkan mencapai 360 mm/ bulan – sebetulnya tak mungkin mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih seperti di beberapa negara Afrika yang mengalami musim kering berkepanjangan. Tapi krisis air di sini bukan sekedar ketiadaan sumber daya air, melainkan distribusi air yang tidak merata.

Karenanya, dalam proposal untuk “Gotong Royong City”, 2009, sebuah sayembara yang diadakan oleh International Architecture Biennale Rotterdam yang bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia, ia membuat sebuah usulan yang berjudul: “Let’s Catch The Water – Jakarta Sponge City”.

Dalam proposal tersebut, ia mengubah arsitektur menjadi “penangkap air hujan”, dengan berbagai desain yang menarik – mulai dari pengolahan atap dan kulit muka bangunan agar bisa mengangkap air, pembuatan kolam-kolam penampungan di rumah-rumah pribadi yang besar, hingga pengelolaan area kampung padat menjadi floating kampong, dimana 50% dari luasan digunakan untuk menampung kelebihan air hujan. Dengan demikian, kota menjadi semacam oraganisme “penghisap air” yang mampu memenuhi kebutuhannya akan air bersih, tanpa membebani alam. Dalam hal ini, bencana banjir pun bisa diubah menjadi berkah bagi masyarakat.

Yang lebih sederhana, dan seharusnya bisa diterapkan di tiap rumah, adalah pengolahan limbah air. Sebuah bentuk penggunaan air yang bijak. Seperti yang dilakukan Paulus Mintarga dengan Rumah Turinya, sebuah hotel kecil di daerah Turisari, Solo. Di sini ia mengolah lagi limbah dari bangunan dalam sebuah tangki dengan sistem mekanik sederhana – diantaranya dengan memanfaatkan tanaman akar wangi (vetifer) yang mampu menyerap limbah beracun dari air – dan menggunakan kembali air hasil olahan tersebut untuk berbagai keperluan; menyiram kebun, menyiram toilet, dan menciptakan “hujan buatan” untuk mendinginkan suhu mikro. Dengan cara ini, air digunakan dengan sangat hemat dan tanpa mencemari lingkungan.

Yang heroik tentu adalah apa yang dilakukan oleh Yuli Kusworo, bersama Jaringan Arsitek Komunitas Jogjakarta. Belum lama ini, mereka memobilisasi sekitar 100 mahasiswa untuk langsung masuk ke kawasan pengungsian Merapi yang paling parah dan tidak terjangkau media, di barak Dukun Muntilan, Jawa Tengah. Di tengah kondisi yang mengenaskan itu – becek, penuh abu, kurang makanan dan pakaian, bahaya penyakit mengancam – mereka bergotong royong membuat fasilitas MCK (Mandi Cuci Kakus). Sayangnya, dengan modal awal hanya 5 juta rupiah, mereka hanya bisa membangun 5 unit MCK untuk sekitar 1600 pengungsi. Jumlah yang sangat minim. Tapi Yuli dan rekan-rekan tahu, kebutuhan akan air bersih dan sanitasi yang baik adalah vital. Ketiadaannya akan mengakibatkan petaka lebih jauh.

Kembali ke meja kerja kita, di studio yang sejuk dan lengang. Kita, para arsitek, biasanya lebih disibukkan dengan urusan luasan ruang, anggaran biaya, akrobatik geometris, tema desain yang seksi, material, style, dan sudut-sudut asyik untuk keperluan publikasi nanti. Air biasanya hadir dalam arsitektur sebagai sampiran; utilitas pendukung arsitektur atau unsur estetis yang ditambahkan kemudian. Kita sering tak peduli bila bangunan tak menyisakan area untuk resapan, limbah rumah itu langsung dibuang ke saluran kota, atau bahkan bila sumber air bersih untuk satu rumah yang kita desain itu berasal dari penggalian sumur artesis yang tak legal.

Krisis air memang masalah yang luas, dan arsitek bukan superman penyelamat dunia. Tapi jika kita terus menerus peduli, sebagai metafor maupun tidak, saya yakin suatu saat kita akan bisa berujar, “Ya, Rumi, kini air akan mencari yang haus.”

Desember, 2010  (Untuk U Mag)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s